53 days left and here I am.

Featured

yet,

so many lessons remain unlearned

a bunch of wishes stay as words

and also,

time becomes more and more borderless.

However, being mostly alone still makes some changes, I guess(?)

I mean, I’ve always been struggling to end my overthinking routine, like that is what I always do even before quarantine.

In the past, meeting people is such a must, right? And when I was alone, there were a few things that I often do,

⁃ fearing about coming across a bunch of people before or

⁃ after actually meeting them

⁃ and crying— without any specific reason

and the difference lies in the last point.

Have you ever cried over something that you didn’t even know what? In the past, I wouldn’t even bother to think about that. I mean, ‘the reason’. Idk if that was because of the lack of time I have or

that’s just because I chose to avoid thinking about it and the situation in the past supports that, like I’ll just let myself not being alone.

However, quarantine does make some significant changes to my life. Especially in the way I handle things like this.

Being alone most of the time makes the space of things to juggle on my mind keeps getting wider. It kinda forces me to solve them when the tragic truth is that I used to let them unsolved. I still often think about them tho, I just didn’t have a desire to solve them.

So the forcing obviously hurts me a lot and surprisingly builds me into a better person, I guess(?)

I dont even quite remember what kind of a person I used to be so I feel unsure to say that the ‘me’ now is a better person or not?

Okay so what I found?

I spot some reasons, problems which are not that big enough, but they used to be considered unimportant. So, that thought made me think that its better not to think about them.

So yeah, most of them are unsolved, or were unsolved(?) it’s still in a long progress tho.

Now, I kinda started to understand the saying that said,” don’t ignore something because it makes you uncomfortable.” Looking back, I always feel and maybe noticeably look uncomfortable. So I’d say that saying kinda makes sense to me right now.

Where 2019 is a year that taught me a lot about being brave to come out from my comfort zone, I’d say 2020 is a year which made me chose to reform that comfort zone into a better place.

I dont know if each sentence of this seems related to one of another or not…

Also, there’s nothing special about 53 days left. Im just in the mood of writing something rn and I know that my mood to write a thing is sooo unstable. So here I am…

Let’s rock our last days in this such tremendous year!

hampa

entah apa alasannya ia tak tahu

maka bungkam saja dirinya

tak ingin memutar kepala

mencari jawaban

sang,”kenapa?”

namun, tak pernah ada yang bertanya pula

karena ia sibuk tertawa

entah untuk apa?

jadi,

kehampaan itu

tak pernah terlihat pula

resah

makin hari semakin gundah

lagi, lagi ia tak tahu alasannya

walau seringkali ia tepis dengan tawa

berharap segala resah hanya halusinasi semata

namun nihil hasilnya

dalam sepi

di tengah sunyi

kegundahan itu semakin menggerogotinya

hampa

tak tahu lagi ia mau ke mana

ke arah manapun ia melangkah

selalu jalan buntu yang menyambutnya

entah

sampai kapan

ia sanggup berpura-pura.

Bandung, 26 September 2019

tentang melepas dan percaya

nestapa jangan digenggam
papaskan saja pada mega
di sini gelap
semakin muram nanti jadinya
tak ada yang larang
nestapa itu wajar adanya
tapi di sini gelap
lepaskan saja ia ke awan
nestapa merasa bersalah
menetap terlalu lama
sudah waktunya menyingkirkan batu yang mengganjal
karena di sini gelap
dan mentari sudah pegal menantinya
nestapa akan pergi dan berjanji
akan menjelma menjadi alasan
dibalik kemujuran

23 Maret 2019

Ingin berkisah tentang balada hati dibalik tulisan ini. Jadi, hari itu tepat di mana siap diumumkannya hasil PPKB. Jika ada yang belum tahu PPKB itu adalah salah satu program dari Universitas Indonesia, semacam undangan, tetapi untuk kelas parallel. Kemarinnya, SNMPTN diumumkan.

Aku, alhamdullilahnya dapat ikutserta dalam keduanya. Namun, keduanya pun juga bukan rezekiku.

Sedih. Aku sempat menaruh harapan, walau sudah banyak yang memperingati untuk tidak.

Aku tentunya bukanlah orang yang paling rajin yang pernah kalian temui. Semasa SMA, aku tidak muluk berkutat dengan buku dan rumus. Namun, aku dapat dikatakan lebih memilih fokus dengan kestabilan nilaiku dibandingkan ikutserta dalam rentetan organisasi di sekolah.

Menyesal? sempat. Aku sempat menyesal dan tentunya kecewa. Seminggu setelah pengumuman itu adalah hari-hari yang cukup lambat untuk dilalui. Pikiranku dipenuhi berbagai andaian yang mungkin saja terjadi jika dulu aku bertindak begini dan begitu. Apalagi masa itu adalah masa menjelang UN. ya, Ujian Nasional.

Sempat berminat untuk bersikap bodo amat dengan Ujian Nasional dan memilih fokus untuk SBMPTN. Kala itu adalah masa di mana pikiranku tentang sekolah sangat amat negatif. Nilai yang aku bangun sejak awal aku menginjakkan kaki di sekolah seakan tidaklah penting lagi. Karena rangkaian “menuju perguruan tinggi” lainnya, tidak sekalipun meliriknya.

Singkat cerita, aku memulai perjalananku sebagai pejuang SBMPTN, yang lebih pantas disebut “pejuang UTBK”.

Aku sempat menjauhi banyak orang, terutama mereka yang masih kerap aktif menanyakan perihal undangan dan pretelan hal lainnya. Namun, perlahan aku pun mulai terbiasa dan menerima.

Aku tidak ingin bercerita akan suka duka belajar, karena aku tahu semua pejuang lainnya pun juga sama denganku, mengorbankan pikiran dan tentunya waktu mereka.

Aku hanya ingin bilang, selama perjalanan ini, aku tidak hanya dapat ilmu eksak.

Selama perjalanan ini,

aku belajar untuk bersyukur,

diberi jalan untuk berbagi,

dan mendapat kesempatan untuk mengenal,

serta disadarkan bahwa hidup tidaklah melulu tentang nilai.

Aku menyadari bahwa hal itu pun terjadi kala aku di sekolah. Walaupun aku dapat dikatakan seorang yang pasif, sekolah tentunya bukan sekadar tempat mengorek nilai.

Jadi,

Jika nantinya kalian bernasib sama atau diberi takdir yang serupa, menangislah jika memang itu cara kalian meredakan sedih. Namun, jangan sampai terlalu larut!

Masih banyak jalan teman,

walau aku sendiri dulu sempat kesal mendengarnya. Akan tetapi, kalian sendiri nantinya yang akan mengkonklusikan, hikmah apa yang kalian dapat pada akhirnya.

S E M A N G A T!

Tentang emak dan tentunya aku.

I miss my grandma, a lot.

Iya, nenek yang biasanya aku panggil,

emak.

Sebenarnya, sudah tidak jarang perasaan ini datang tiba-tiba. Namun, tiap saat bayangan wanita itu terlintas selalu saja ada bagian dalam diri ini yang terasa terpelatuk.

Hidup aku sempat didominasi oleh emak sejak keluarga memutuskan untuk memulai hidup baru di Jakarta. Ya, mama papa sempat menjadi tipikal orang tua pada umumnya, pergi pagi dan pulang malam.

Menghabiskan hari-hari dengan orang yang sama terkadang membuat kita lupa betapa berarti seseorang tersebut. Bertahun-tahun aku dan emak menghabiskan pagi hingga malam bersama.

Tiap pagi, gerakan halus tubuhnya sebangun tidur seakan sudah menjadi alarm pagiku. Emak yang sudah tergolong lansia dengan mengagumkannya tak pernah melalaikan sholatnya,- satu hal yang aku saja tak pernah berhasil merutinkannya.

Tiap sore, pemandangan emak menyapu halaman selalu tersuguhkan. Daun-daun nakal yang kerap berguguran tak menghalangi emak untuk bergerak lincah memungutnya.

Dan malam akan selalu menjadi kenangan paling mengesankan bagiku tentang emak.

My friends find my obssesion of people caressing my back so weird. The thing is that’s how my grandma and I got close.

Sebelum pindah ke Jakarta, aku benar-benar buta akan sosok nenek apalagi kakek. Orang tua papa meninggal ketika aku masih belum bisa mengingat apapun. Ayah dari mama bahkan sudah pergi sebelum mama menikah. Hanya emak yang tersisa. Emak yang waktu itu jauh di Jakarta.

Maka dari itu rasanya aneh tiba-tiba tinggal seatap dengannya. Namun, secara perlahan aku mempelajari segala hal tentang emak.

Emak yang tak sudi membiarkan tubuhnya yang renta bermalas-malasan.

Emak yang diam-diam memiliki cucu favoritnya, yang pastinya bukan aku.

Emak yang kuat.

Emak yang tanpa kusadari, lebih mengerti aku daripada siapapun.

Setiap malam, emak tidak pernah absen mengusapkan tangan keriputnya ke punggungku. Hal sederhana tetapi mampu membuatku merasa terikat dengan emak.

Usapannya bukan hanya menenangkan, tetapi seperti berbicara padaku.

Moving in to Jakarta was such a big deal for me.

Sewaktu di Padang, aku tidak merasa kesulitan dalam berteman. Segala hal terasa mudah karena mama berteman dengan orang tua murid lainnya. Namun, entah mengapa segala hal tentang pertemanan sangat berbeda di Jakarta.

Semua orang sibuk. Dan aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Aku menyadari bagaimana aku selalu bergantung pada mama. Aku mencoba untuk melakukan semuanya sendiri, tetapi aku malah menemukan kepribadian tentang diriku yang tak pernah aku sadari. Alhasil, aku malah mengisolasikan diri.

Maka dari itu, sekadar usapan itu sangat berarti bagiku. Walaupun pada kenyataannya, aku dan emak jarang bercakap. Namun dengan diam, emak bagiku adalah seseorang yang paling mengerti di saat yang lain, begitu.

Hm…

Sejak pindah, banyak hal yang berubah. Entah itu akan bagaimana aku melihat dunia maupun diriku sendiri. Dan tentunya, situasi.

Seperti yang sudah ku katakan, tak ada yang bisa aku salahkan. Dengan keputusan untuk pindah ke Jakarta, secara tidak langsung aku harus siap dengan mama papa yang semakin sibuk. Rasanya egois jika aku terlalu memikirkan diriku sendiri di saat mereka pun sedang berupaya untuk menghidupiku.

Jujur, awalnya tidak ada masalah apa-apa.

Namun, perlahan segala situasi asing mulai mencoba membaur dalam hidupku.

Sepi.

Aku punya kakak, lebih tepatnya dua abang. Namun, secara perlahan mulai terbentuk celah di antara kita yang tampaknya memang tercipta terlarang untuk dilewati. Entah hanya aku yang merasa tapi aku bahkan seperti tidak mengenal mereka.

Tidak, kami tentunya tidak saling benci. Hanya, berbeda. Dunia kita berbeda. Dari selera musik, hobi, dan tentunya pertemanan.

Jadi, ya, rasanya sepi. Namun tak apa. Aku perlahan sudah mulai bersahabat dengan sunyi. Apalagi jika itu bersama emak. Sunyi bersama emak tidak pernah membuatku merasa sendiri.

Akan tetapi,

emak tidak lagi tinggal bersamaku setelah keluarga pindah rumah untuk ketiga kalinya. Aku dulu senang. Tidak, bukan karena emak menjauh, melainkan karena aku akhirnya tidur sendiri, memiliki ruang untukku sendiri.

Kehampaan akan ketidakhadiran emak pun perlahan mulai sirna. Aku mulai terbiasa sendiri. Apalagi, setelah aku memutuskan untuk tinggal di asrama.

Namun kabar buruk datang di pertengahan tahun kedua aku berasrama. Emak pergi, kali ini untuk waktu yang cukup panjang, sampai aku pun tak tahu kapan akan bertemu dengannya kembali.

Dan seperti yang orang-orang bilang, penyesalan selalu datang terlambat, bukan?

Hari demi hari berlalu sejak kepergian emak, satu per satu kenangan tentang emak pun mulai berlarian dari persembunyiannya. Emak, sampai sekarang, menjadi salah satu memori yang secara tidak sadar paling aku rindukan. Baik hal kecil maupun besar, terasa sangat menyenangkan bila diizinkan untuk kembali terjadi. Namun, tentunya aku mengerti.

Realitanya seperti ini.

Sebenarnya, banyak hal yang sudah berubah. Mama papa sudah mulai banyak waktu luang. Bahkan, beberapa tahun terakhir ini aku banyak menghabiskan waktu bersama mereka, lebih tepatnya setelah aku keluar dari asrama.

Aku tentunya senang. Menghabiskan banyak waktu dengan mereka.

But, most people around me don’t understand. Sometimes, I want to be free.

Bukan. Bukan bebas dalam artian di mana mereka sudah tidak memedulikan apapun. Namun, lebih ke arah di mana aku dipercaya untuk melakukan sesuatu sendiri.

Karena jujur saja aku tidak merasa mendapatkan aura seorang pun yang menganggap aku dapat melakukan sesuatu sendiri. Aku bukannya ingin diakui sebagai pribadi yang mandiri, karena mungkin aku memang jauh dari hal itu. Namun, setidaknya ada secercah kepercayaan orang that I’ll be fine on my own. Not in the term of being alone all the time, but more like getting things done with my own way.

Sometimes I wonder what kind of a person that people think I am? Am I always seen as a childish person?

Terkadang selalu ada bagian dalam diriku yang meminta untuk memaklumi. Karena aku anak bungsu, perempuan, dan berbagai alasan lainnya. Namun, semakin lama rasanya seperti tidak menjalani hidupku sepenuhnya. Rasanya, seperti terkekang.

Jadi,

sepertinya sampai di sini saja.

seperti biasanya topiknya meluber.

bye.

l a r a t

larat/
jangan tanyakan kausanya
ia gundah
walau tak tersirat memang
terkadang ingin menjerit
tapi untuk apa?
tempat ini sudah terlalu nyaring
semakin bising nantinya

pilu itu semakin menyelimuti
walau sudah sekian kali ia menggerutu
karena
tak sekali pun ia menggigil
jadi untuk apa?
tempat ini sudah terlalu lindap
semakin mencekam nantinya

larat/
walau berulang kali ia mencoba berhenti
tetapi resah itu semakin menjadi
angan buruk itu
tak pernah bosan menghantui
dan ia terdesak
terjaga lagi dan lagi.

21 Mei 2019

s e n a k

senak
rasanya tak mampuku sekadar menjentikan jemari
tempat ini terlalu sesak
bilik itu seakan beringsut mendekat
ku raba segala pembatas
berharap kutemukan jalan keluar
namun hanya pintu tak bergagang yang kudapat
ku raba kembali
dapat!
lubang kunci sepertinya
mataku kembali berpencar
tapi gagal
nihil

senak
bilik itu semakin mendekat
aku duduk terdiam
menanti
sampai tak sadar
kuncinya bergelantungan

27 Januari 2019

panas, dingin

dingin
padahal kain itu tebal sekali
tapi hawa ini semakin menusuk
ramai pula
padahal tak ada yang bersuara
dari mana asal bising ini aku tak tahu
yang jelas ia terus menggangu
ku coba abai
tapi ia tak kunjung berhenti
malah terdengar tertawa sambil menyeringai

panas
ingin kupecahkan saja balon-balon itu
membuat pengap
ia terus megar
tapi tak kunjung letup
terpaksa aku memikirkannya
karena hanya ada mereka di segala sisi
meraung tak ingin dicuaikan
padahal aku ingin yang lain
balon-balon itu tidak menyenangkan
tapi mereka licik
karena mereka tahu
aku tak mungkin pergi

19 Januari 2019

t e r j a g a

ia berbaring menatap bulan
merasai mengatup netra
tapi tragedi itu tak kunjung hilang
terus berdansa dalam benak pikiran
padahal esok ia akan lejar
inginnya rehat sekilas
tapi tragedi itu tak kunjung hilang
bahkan semakin jelas kronologisnya
merongrong haus perhatian
dan seperti biasa,
ia kembali mengalah
walau ia pirsa,
tragedi itu
hanyalah niskala

31 Oktober 2018

m i m p i

seakan menari,
tangan itu berlenggak-lenggok ke sana kemari
mencari arah katanya
tapi tak muncul juga konklusinya

gelap
tidak, tidak seram
hanya tidak terlihat
jawaban yang ia tunggu tak kunjung pulang
sampai petang pun tak lagi kuat
menopang rawi yang sudah bosan ingin cicipi negri seberang
lelahlah ia
bersumarahlah jadinya

tapi,
tidak, tidak mudah
mereka terus saja tak paham
berulang-ulang bersoal
‘mau ke mana?’
‘sudah ada tintingan?’
‘janganlah mengasal!’
mati kutulah ia
terus saja menyeringai
gabuk pun kembali menghantuinya
bukan inginnya hilang
tapi buntu semua sekelilingnya

28 Agustus 2018